REKOMENDASI OLAHRAGA WHO MASIH DIANGGAP KURANG

Sekelompok peneliti yang menganalisis 174 studi terkait aktivitas fisik menyebut bahwa memang benar olahraga dapat secara signifikan mengurangi risiko penyakit. Hanya saja hal itu bisa dicapai apabila seseorang rutin melakukan aktivitas fisik jauh di atas rekomendasi minimal oleh World Health Organization (WHO).

Tim peneliti yang dipimpin oleh Hmwe Kyu dari University of Washington mengatakan untuk memperoleh manfaat yang paling besar, maka seseorang harus melakukan aktivitas fisik setidaknya lima sampai tujuh kali lipat dari rekomendasi WHO. Saat ini WHO sendiri merekomendasikan seseorang melakukan aktivitas fisik setara 600 menit metabolic equivalent (MET).

“Meski efek perlindungan aktivitas fisik pada berbagai penyakit kronis sudah dipelajari dengan baik dan didukung dalam literatur, masih sedikit penelitian yang secara sistematis mengukur hubungan dosis dan respons antara aktivitas fisik dengan penyakit kronik,” tulis Hmwe Kyu seperti dikutip dari jurnal BMJ, Sabtu (13/8/2016).

“Untuk pengurangan risiko minimal aktivitas fisik ini dilakukan pada tingkat 3.000 sampai 4.000 menit MET per minggu,” ungkapnya.

Aktivitas apa yang setara dengan 3.000 menit MET per minggu dalam kehidupan sehari-hari bisa dengan naik turun tangga 10 menit, menyapu rumah 15 menit, berkebun 20 menit, lari 30 menit, dan jalan kaki atau naik sepeda 25 menit. Semua aktivitas tersebut dilakukan setiap hari.

Spesialis kardiovaskuler dr Oliver Monfredi dari Manchester University mengatakan pada intinya semakin aktif seseorang maka semakin baik dampak untuk kesehatan.

“Singkatnya dalam hal melindungi diri dari lima penyakit umum yang berpotensi membahayakan jiwa, melakukan olahraga pada tingkat apapun lebih baik dan harus didorong oleh para ahli kesehatan, politikus, dan yayasan. Ini semua untuk mengurangi beban penyakit di masyarakat sekarang,” tutup dr Oliver.

 

sumber: http://health.detik.com/read/2016/08/13/080933/3274504/763/rekomendasi-olahraga-who-disebut-masih-kurang-untuk-kurangi-risiko-penyakit